Prosespencucian dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu sebagai berikut. a. Laundry Proses laundry pakaian yang akan dicuci selalu menggunakan air, sehingga tahapan pencucian yang dilakukan sebagai berikut. 1) Pre-washing, bertujuan untuk melunakkan kotoran atau noda yang melekat. Proses ini dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin.
PROSESPEMBUATAN MINYAK IKAN. Minyak ikan termasuk senyawa lipida yang bersifat tidak larut dalam air (Winarno, 1995 dalam Purbosari, 1999). Minyak ikan ini dibagi dalam dua golongan, yaitu minyak hati ikan (fish liver oil) yang terutama dimanfaatkan sebagai sumber vitamin A dan D, dan golongan lainnya adalah minyak tubuh ikan (body oil
senyawafenolik yang dapat mengganggu proses metabolisme. Oleh karena itu perlu dilakukan pemurnian atau purifikasi. Yaitu dengan mengkombinasikan perlakuan sentrifugasi dengan kecepatan yang sesuai, filtrasi, pengapungan dengan sukrosa 21% serta pencucian. Bila waktu isolasi telah dianggap menghasilkan protoplas dalam
Caraini sudah jarang digunakan di hotel- hotel, mengingat resiko kecelakaan kerja yang dapat terjadi sangat tinggi. Linen kotor yang akan dibawa bukan hanya satu atau dua klembar saja, melaikan bias saja dalam jumlah yang banyak. Kalau cara ini terpakasa dilakukan maka harus memperhatikan beran beban yang akan dibawa, misalnya sebagai berikut :
Dehidrasidapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara kimia dan fisika. Dehidrasi yang dilakukan secara kimia kurang efisien dibandingkan secara fisika sehingga pengembangan teknik dehidrasi secara fisika berkembang dengan pesat. Proses pencucian dilakukan untuk memisahkan karbon yang dihasilkan dengan abu pada proses karbonasi
Pencuciandapat dilakukan dengan dua cara yaitu : 1. Penyaringan sampai larutan habis lalu memasukan semua endapan ke dalam saringan. Cairan pencuci dituang ke dalam endapan dan dibiarkan mengalir habis berulang- ulang hingga endapan bersih. 224 2. Penyaringan dengan dekantasi.
Dialisis- Pengertian, Jenis, Tujuan dan Efek Samping. Ginjal merupakan sebuah organ yang sangat penting peranannya dalam tubuh manusia. Banyak sekali unsur kesehatan dalam tubuh manusia yang bersentuhan secara langsung dengan fungsi ginjal sendiri. Namun, selain itu ada juga beberapa fungsi ginjal yang secara tak langsung juga mempengaruhi
sampai30%. ekstraksi pelarut pada sampel kering dapat melibatkan dua proses, yaitu : kontak sampel dengan pelarut sehingga terjadi pembengkakan dan hidrasi 1.3 Pencucian. Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan (Depkes RI 1986). Proses maserasi ini dilakukan dengan cara merendam sampel dalam mngggunakan pelarut tertentu pada
TBN2mDk. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Hai, Saya Icen. Mahasiswi D4 Perhotelan 2019 Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti DKI Jakarta. Saya Merupakan Penerima Penghargaan Beasiswa Unggulan Kementrian Pendidikan. Saya harap dapat membagikan sesuatu yang sangat bermanfaat. bahasan 1. Macam dan fungsi Solvent. 2. Macam dan fungsi peralatan dry cleaning. 3. Obat-obatan yang digunakan pada proses dry Prosedur pencucian dry cleaning. A. MACAM DAN FUNGSI SOLVENT Untuk dry cleaning process maka main deterjen/media utamanya adalah SOLVENT, dan jenis Solvent yang digunakan pada dry cleaning proses adalah ;1. . Stodart Solvent, memiliki ciri- ciri mudah terbakar dan berbau Pertoleum Solvent, memiliki ciri-ciri mudah terbakar dan berbau Tri chloro Ethylene Solvent, memiliki ciri-ciri mudah terbakar dan tidak Per Thloro Ethylene Solvent, miliki ciri-ciri tidak mudah terbakar dan tidak MACAM DAN FUNGSI PERALATAN DRY CLEANING Proses terdiri dari Wool Press ini digunakan untuk melicinkan dari bahan-bahan yang lebih halus dari cotton, misalnya yang terbuat dari Wool, silk, sintetis dan lain lain. Mesin ini dibantu vacum yang sangat membantu di dalam mencapai hasil yang baik. Head dan buck/bantalannya dapat mengeluarkan steam ;Mush room dry cleaning press, Digunakan untuk melicinkan bagian atas dari bermacam-macam dry cleaning press, Digunakan untuk melicinkan bagian bawah dari bermacam-macam finisher/finishing from, Digunakan untuk membentuk frompakaian dengan bagus dan baik, Contoh jas, dress, blouse, t-shirt. Dilengkapi dengan pengaturan ukuransmall,medium,large u tuk bagian atas, tengah dan Iron, Mesin pelicin yang di jalankan dengan tangan, kegunaan nya sama dengan Hand Ironing yang di gunakan dilaundry, hanya panas yang dipakai dari steam/ Topper, Mesin yang khusus untuk melicinkan celana bagian atas, dimana cara kerjanya seperti From OBAT - OBATAN YANG DIGUNAKAN PADA PROSES DRY CLEANING1. Pada saat proses pencucian Beauty Tax Dry Cairan yang digunakan untuk memperindah P Cairan yang digunakan untuk menyerap kotoran/noda yang menempel pada pakaian yang sedang dicuci secara dry Pada saat destilasi Solvent pada prinsipnya dapat di gunakan kurang lebih 3 kali proses pencucian tentunya sesuai dengan kapasitas muat mesinnya, dimana setiap kali proses pencucian fungsi Solvent akan berkurang sebanyak 30% sehingga Solvent harus di destilasi agar Solvent yang digunakan harus dalam keadaan proses destilasi digunakan 2 macam jenis obat yaitu Carbon Aktif merk dagang DARCO , dimana berfungsi Untuk mengikat wama pada Solvent sehingga Solvent jemih Powder merk dagang HYFLI SUPER SHELL, dimana berfungsi Untuk mengikat kotoran pada pakaian sehingga Solvent jemih PROSEDUR PENCUCIAN DRY CLEANING Pengelompokam bahan yang akan dicuci pada mesin dry cleaning terbagi atas 2 bagian yaitu a. Kotor berat, kotor sedang, kotor ringan dicuci dengan mesin Dry Rapuh, Luntur dan sangat tipis bahanya di cuci dengan tangan manual.Proses pencucian dry cleaning dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu Manual Yaitu cara menjalankan mesin dry cleaning apabila automaticnya tidak berfungsi pencucian dengan manual/tangan disebut drop cara menjalankan mesin dry cleaning dengan diprogram kan sehingga dapat berkerja secara automatic. 1 2 Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
ABSTRAK Pati garut, sebagaimana jenis pati alami lainnya diketahui memiliki kelemahan sifat fisik dan kimia yang menyebabkan penggunaan pati garut pada industri pangan relatif terbatas. Untuk itu maka perlu dilakukan perbaikan sifat fisik dan kimianya dengan cara melakukan modifikasi pati garut. Selain itu modifikasi pati juga dapat memberikan efek fisiologis yang menyehatkan bagi tubuh. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan metode sintesis pati-garut butirat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap sederhana dengan faktor teknik pencucian pati-garut butirat yang meliputi pencucian dengan menggunakan aquades, dengan mengggunakan aquades dan diikuti dengan penggunaan etanol dan dengan menggunakan aquades dan etanol dan kemudian diakhiri dengan proses sentrifuse. Parameter analisis meliputi aroma pati-garut butirat, % butiril, derajat substitusi dan profil FTIR pati-garut butirat Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pencucian dengan menggunakan aquades sebanyak dua kali dan dilanjutkan pencucian dengan menggunakan etanol yang diikuti dengan proses sentrifuse pada 3000 rpm selama 15 menit diketahui cukup efektif untuk menghilangkan aroma butirat pada pati-garut butirat, akan tetapi tidak berpengaruh terhadap % butiril dan derajat substitusi pati-garut butirat. Hasil analisis dengan menggunakan Fourier transform infrared spectrophotometer FTIR menunjukkan bahwa pada pati-garut butirat terbentuk lembah baru pada panjang gelombang 1740 cm-1 dan berbeda dengan pati alami. Keyword pati-garut butirat, gugus butiril, derajat substitusi, FTIR PENDAHULUAN Umbi garut Marantha arundinacea Linn yang tumbuh di wilayah iklim tropis, memiliki potensi yang besar sebagai bahan pangan. Produksi umbi garut Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free A preview of the PDF is not available ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Chem. 816735-740 Acetylation of high-amylose 70% maize starch to high degree of substitution DS was studied by reacting starch with acetic anhydride using 50% aqueous NaOH as the catalyst. DS increased with increasing reaction times and increasing ratios of acetic anhydride to starch. Reac- tion efficiency RE increased with longer reaction times and decreased with increases in the ratios of acetic anhydride to starch for extended reaction times. Increasing the amount of NaOH increased both DS and RE. A series of starch acetates with DS values of were prepared and their crystalline structures, chemical structures, thermal stability, and morphological properties were investigated. After acetylation, and as DS increased from to the crystalline structures of starch steadily disappeared. The carbonyl group's peak at 1,740 cm-1 appeared in the FTIR spectra. The intensity of this peak increased with a decrease in the peak intensity of the hydroxyl groups at 3,000-3,600 cm-1, indicating that the hydroxyl groups on starch were replaced by the acetyl groups. Thermal stability of starch acetates increased. The smooth surface of the starch granules became rough with acetylation. Further acetylation led to the loss of the starch granules and the formation of beehive- and fibrous- like Santayanon Jatuphorn WootthikanokkhanChemical modification of the cassava starch was conducted through acylation by using propionic anhydride as an esterifying reagent. The reaction was carried out in the presence of a pyridine catalyst and the effects of reaction variables such as the anhydride content, reaction time and reaction temperature on the degree of acylation were investigated. Results from Fourier transform infrared spectroscopy suggested that the hydroxyl groups in the starch molecules were converted into ester groups, accompanied by an increase in water stability of the starch. The propionyl content was found to be non-linearly dependent with the reaction variables. Scanning electron micrographs of the modified starch-blended polyurethane showed a better interfacial adhesion than the normal starch-blended polyurethane. However, results from the soil burial test showed that the modified starch experienced a slower biodegradation than the normal Betancur Luis Chel GuerreroThe physicochemical and functional properties of Canavalia ensiformis starch hydrolyzed with HCl were studied. The factors analyzed were HCl concentration temperature 45−55°C, and reaction time 3−6 h. Alkali number and viscosity were the response variables. A 23 factorial design with five replicates of the central trial was used. Hydrolyzed starch with HCl at 55 °C for 6 h reached an alkali number of The hydrolysis reaction did not present important changes on the starch chemical composition except for an ash content reduction. A comparison between these hydrolyzed starches and the native starches showed a viscosity cP, swelling power g of water/g of starch, and retrogradation reduction. A solubility increment was found. Gelatinization temperature did not vary 76−82 °C. Keywords Canavalia; starch; acid hydrolysis; functional propertiesGranular and crystalline structure of starch citrates from normal, high amylose and waxy corn starch were characterized using scanning electron microscopy SEM, optical microscopy, X-ray diffraction and Fourier transform infrared spectroscopy FT-IR in this study. SEM showed that citric acid treatment induced changes in the morphology of starch granules. The granule structure of starch citrates was not collapsed or destroyed even after heating. Normal and high amylose corn starch citrates maintained birefringence but lost it upon heating at 100 °C for 30 min. However, waxy corn starch citrate showed no birefringence, even before heating. Starch citrates showed different X-ray diffraction patterns before and after heating. A new peak at 1724 cm−1 ester bond was observed in FT-IR for all starch citrates before and after heating, indicating starch citrates were heat-stable. After the deconvolution of spectra, the intensity ratio of 1016 cm−1/1045 cm−1 was used to calculate the ratio of amorphous to crystalline phase in the starch citrates. The ratio of 1016 cm−1/1045 cm−1 increased with an increase in the degree of substitution. Olayide LawalStarch was isolated from finger millet Eleusine coracana and it was etherified with propylene oxide to produce hydroxypropylated derivative. The specific specie used in this study is African finger millet known as jeero. The yield of starch obtained from finger millet on dry weight basis was Progressive increases in molar substitution MS were observed as the volume of propylene oxide added to the reaction medium increased. The X-ray pattern of native finger millet starch conforms to the A’ diffraction pattern characteristics of cereal starches. Prominent peaks were observed at around 2θ=15°, 17°, 18° and 23° and weaker peaks at around 2θ=20° and 26°. No pronounced differences were observed between the diffractograms of native starch and the hydroxypropyl derivatives. Hydroxypropylation improved the free swelling capacities of the native starch at all temperatures studied 30–90 °C. Turbidity of unmodified finger millet starch paste increased progressively as the days of storage increased. Turbidity reduced remarkably after hydroxypropylation and reduction in turbidity was observed as the MS of the modified starches increased. Hydroxypropylation reduced pasting temperature, increased peak viscosity but reduced setback value. In addition, hydroxypropylation reduced percentage syneresis of the unmodified starch. Retrogradation properties monitored with differential scanning calorimetry reveals that starch retrogradation reduced reasonably after hydroxypropylation. Carbon 13 NMR spectroscopy reveals that hydroxypropylation took place predominantly on carbon 6 on the anhydroglucose unit AGU.The physicochemical, morphological, thermal and rheological properties of acetylated corn and potato starches, prepared using acetic anhydride at different levels 4–12 g, were compared. Corn starch showed lower acetyl % and degree of substitution DS than potato starches under similar experimental conditions. The acetylated corn and potato starches showed slightly higher amylose contents than their counterpart native starches. Acetylated starches showed higher swelling power, solubility and light transmittance than native starches, which subsequently increased with the increase in acetic anhydride concentration in the reaction medium. The extent of change in these properties, as a function of acetic anhydride concentration, was significantly higher in potato than corn starches. Both potato and corn starches were fused after conversion to acetylated starches; however, this effect was more pronounced in the former under similar reaction conditions. The syneresis % of both acetylated and native starches increased during storage at 4 °C; however, the increase was less pronounced in acetylated physical properties of octenyl succinic anhydride OSA starches prepared from rice, wheat, and potato starches were studied. Rice and wheat OSA starches had significantly higher peak viscosity PV, hot paste viscosity HPV, and cool paste viscosity CPV, but potato OSA starch had only significantly higher CPV, relative to the native starch. The gel hardness was higher with lower degree of substitution DS but lower with higher DS OSA compared to native starch. The swelling volumes SV of rice and wheat OSA starches were significantly higher compared to native starch, but the SV of potato OSA starch was slightly lower at high DS. The gelatinization temperature GT of rice OSA starches was sharply lower at low DS; for wheat OSA starch it was slightly lower even at high DS, but potato OSA starches had higher GT than the native starch. The enthalpy of all the OSA starches decreased gradually with increased DS. This study showed that the magnitude of changes in physical properties of OSA-modified starches depends not only on their DS but also on the botanical origin of the native ditunjukkan pada Gambar 2 dan 3. Berdasarkan gambar tersebut diketahui bahwa profil FT-IR pada rentangan panjang gelombang antaraFt-Ir ProfilPatiProfil FT-IR pati garut dan pati-garut butirat dengan DS 0,053; 0,120 dan 0,187 ditunjukkan pada Gambar 2 dan 3. Berdasarkan gambar tersebut diketahui bahwa profil FT-IR pada rentangan panjang gelombang antara 4000-500 cm -1Lembah baru pada profil FT-IR pati-garut butirat adalah pada panjang gelombang 1740,64 cm -1 dan berkurangnya lembah pada panjang gelombang 1640,29 cm -1 , yang menunjukkan keberadaan ikatan C═O dari gugus butirilR SantayanonJ Wootthikanokkhandiketahui bahwa pada pati alami terdapat 14 tujuh lembah, sedangkan pada patigarut butirat terdapat 18 lembah. Profil tersebut menunjukkan pola yang serupa dengan jenis pati alami dan pati asetat dari beberapa jenis pati seperti dari pati jagung, pati kentang dan pati beras Santayanon, R. and J. Wootthikanokkhan, 2002. Lembah baru pada profil FT-IR pati-garut butirat adalah pada panjang gelombang 1740,64 cm -1 dan berkurangnya lembah pada panjang gelombang 1640,29 cm -1, yang menunjukkan keberadaan ikatan C═O dari gugus butiril. Gambar 2. Profil FTIR pati garut alamiAcetylated, propionylated or butyrylated starches raise large bowel short-chain fatty acids preferentially when fed to ratsG AnnisonR J IllmanD L TopingAnnison, G., Illman and Toping. 2003. Acetylated, propionylated or butyrylated starches raise large bowel short-chain fatty acids preferentially when fed to rats. J. Nutr. 1333523-3528.
Pencucian akan mengurangi atau menghilangi bahan-bahan sejenis malam lilin yang melapisi kulit pada beberapa jenis hasil pertanian seperti buah-buahan, untuk melindungi kotoran yang melekat pada buah yang dapat menunjukan adanya populasi mikroorganisme, untuk menghilangi adanya sisi-sisa insektisida. Air yang digunakan untuk mencuci harus bersih, sebaiknya digunakan air yang mengalir dan bersih. Pencucian dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu denagn cara basah atau kering, penyemprotan angin, perendaman bak perendam atau disemprot air. 3. Penghancuran Penambahan air ini ditujukan agar memudahkan proses penghancuran buah, penghancuran dilakukan dengan blender selama 4 menit. Penghancuran dilakukan sampai terbentuk bubur buah. Proses penghancuran ini dilakukan sampai halus. 4. Pemasakan Pemasakan bertujuhan untuk membuat campuran gula dan bubur buah menjadi homogen dan menghilangkan air tang berlebihan sehingga selai yang dihasilkan menjadi pekat. Di samping itu, pemasakan juga bertujuan untuk mengekstraksi pektin untuk memperoleh sari buah yang optimal, untuk menghasilkan cita rasa yang baik, dan untuk memperoleh struktur gel. Selama pemasakan harus dilakukan pengadukan agar campuran bahan selai, yaitu buah atau bahan dasar, pektin, gula dan asam menjadi homogen. Pengadukan juga bertujuan untuk memperoleh struktur gel. Pengadukan tidak boleh terlalu cepat karena dapat menimbulkan gelembung-gelembung yang dapat merusak tekstur dan penampakan akhir. 5. Pendinginan Pendinginan pada pembuatan selai bertujuan untuk membuat tekstur selai supaya menjadi bagus. Proses pendinginan selai kurang lebih hingga commit to user 12 6. Pengemasan Pengemasan merupakan suatu cara dalam memberikan kondisi sekeliling yang tepat bagi bahan pangan dan dengan demikian membutuhkan pemikiran dan perhatian yang besar dari pada yang biasa-biasanya diketahui. Industri pangan cenderung untuk membedakan antara proses pengalengan dan pembotolan di suatu pihak lain. Sampai batas tertentu, ini merupakan perbedaan nyata antara metode pengolahan pangan yang mengikutsertakan sterilisasi dan pasteurisasi terhadap metode pengawetan lainya, termasuk dehidrasi dan pembekuan cepat. Pengemas disebut juga pembungkus, pewadahan atau pengepakan. Adanya wadah atau pembungkus dapat membantu mencegah atau mengurangi, melindungi bahan pangan atau produk yang ada didalamnya, dan melindungi bahaya pencemaran serta bahaya fisik gesekan benturan, dan getaran. Pengemasan juga berfungsi untuk menempatkan suatu hasil pengolahan atau produk industri supaya mempunyai bentuk yang memudahkan dalam penyimpanan, pengangkutan dan distribusi. Kemasan juga sebagai alat promosi dan media informasi. E. Analisis Sensori Uji scoring adalah pengujian yang dilakukan untuk memberikan penilaian terhadap suatu produk, dengan mengandalkan panca indra. Panelis adalah kelompok yang memberikan penilaian terhadap suatu produk, dibedakan menjadi lima yaitu panelis perorangan, panelis terbatas, panelis terlatih 7-15 orang, panelis setengah terlatih 15-25 orang dan panelis tidak terlatih 25 orang. Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam melaksanakan uji organoleptik adalah fisiologi keadaan fisik panelis, psikologi perasaan panelis dan kondisi lingkungan saat pengujian. Dalam pelaksanaannya, digunakan uji scoring dimana panelis tidak terlatih diminta memberikan penilaian dalam skala yang menunjukkan tingkat dari sangat tidak suka sekali sampai sangat suka sekali untuk respon rasa. Sedangkan panelis setengah terlatih memberikan penilaian dari tingkat sangat tidak commit to user 13 mengembang sekali sampai sangat mengembang sekali untuk respon kemampuan mengembang Rahayu, 2001. Uji skoring merupakan uji yang menggunakan panelis terlatih dan benar-benar tahu mengenai atribut yang dinilai. Tipe pengujian skoring sering digunakan untuk menilai mutu bahan dan intensitas sifat tertentu misalnya kemanisan, kekerasan, dan warna. Selain itu, digunakan untuk mencari korelasi pengukuran subyektif dengan obyektif dalam rangka pengukuran obyektif Kartika dkk, 1988. F. Analisis Vitamin C Vitamin C dapat berbentuk L-dehidroaskorbat, mempunyai keaktivan sebagai vitamin C, asam askorbat yang kehilangan atom hidrogen sehingga atom C mempunyai ikatan rangkap, asam dehidroaskorbat kehilangan hidrogen pada asam askorbat . Asam askorbat sangat mudah teroksidasi secara reversible menjadi L-dehidroaskorbat. Asam dehidroaskorbat secara kimia sangat labil dan dapat mengalami perubahan lebih lanjut menjadi asam L-diketogulonat yang tidak memiliki keaktifan vitamin C lagi Winarno, 1992. Vitamin C pada umunya hanya terdapat di dalam pangan nabati, yaitu sayur dan buah seperti jeruk, nanas, rambutan, pepaya, gandaria, dan tomat. Buah yang mengandung vitamin C tidak selalu berwarna kuning. Bahkan, pada beberapa buah, kulitnya mengandung vitamin C lebih tinggi daripada buahnya. Misalnya pada kulit buah apel dan jeruk walaupun tidak semua kulit buah bisa dimakan Counsel, 1996. Untuk struktur vitamin C dapat dilihat pada Gambar commit to user 14 BAB III METODE PELAKSANAAN A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kegiatan Praktek Produksi Pembuatan Selai Sawo dilaksanakan mulai Bulan April 2012 sampai bulan Mei 2012 di Laboratorium Rekayasa Proses dan Pengolahan Hasil Pertanian dan Laboratorium Pangan dan Gizi, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta. B. Bahan, Alat dan Cara Kerja 1. Bahan Bahan yang digunakan dalam praktek produksi ini adalah buah sawo, gula pasir, air, vanili, pektin, jeruk nipis sedangkan bahan yang digunakan dalam uji kimia selai sawo adalah indikator amilum, aquades dan larutan Iod. 2. Alat Alat yang digunakan dalam praktek produksi ini adalah baskom plastik, wajan, timbangan digital, kompor gas, blender, pengaduk, pisau stainless, botol selai sedangkan alat yang digunakan pada uji kimia selai sawo adalah gelas ukur 100 ml, buret, Erlenmeyer 250 ml, pipet ukur 5 ml, pipet ukur 25 ml, corong, kertas saring. commit to user 15 3. Cara Kerja. Cara kerja pembuatan selai sawo dapat dilihat dalam Gambar Gambar Diagram Alir Proses Pembuatan Selai Sawo C. Analisis Produk Produk selai sawo yang telah dibuat kemudian dilakukan analisis sensori dengan uji kesukaan, analisis kimia yaitu analisis vitamin C yang ditunjukkan pada Tabel dan Tabel Tabel Formulasi Pembuatan Selai Sawo Bahan Formulasi 1 100 30 Formulasi II 100 35 Formulasi III 100 40 Daging buah sawo 500 gram 500 gram 500 gram Gula 150 gram 175 gram 200 gram Air 30 ml 30 ml 30 ml Vanili 1 gr 1 gr 1 gr Pektin 1 gr 1gr 1 gr Pencucian Penghancuran Pemasakan Pengupasan Pendinginan Pengemasan Buah Sawo Air Gula, vanili, pektin, jeruk nipis Selai Sawo commit to user 16 Jeruk nipis 20 gr 20 gr 20 gr Tabel Metode Analisis Produk. No Macam Analisis Metode 1 Sensori Uji Skoring Utami, 1999 2 Vitamin C Titrasi Iodin Sudarmadji dkk, 1981 D. Analisis Ekonomi a. Biaya Produksi Total Biaya Produksi = Total Fixed Cost + Total Variable Cost b. Biaya Perawatan Dan Perbaikan BPP 100 hari x jam x P x %FPP 1 BPP P = harga awal FPP = faktor perawatan dan perbaikan c. Penyusutan/Depresiasi N NS P Depresiasi Keterangan P Harga peralatan awal NS Biaya penyusutan N Jumlah bulan d. Pajak Usaha Pajak Usaha = 10% x Laba Kotor e. Harga Pokok Penjualan HPP= Produksi Kapasitas roduksi P Biaya f. Perhitungan Penjualan Penjualan = Harga/unit x Jumlah Unit g. Perhitungan Rugi Laba Laba kotor = Penjualan-Biaya Pokok Produksi commit to user 17 h. BEP unit QBEP= Produksi tas VC/Kapasi Jual Harga FC FC Fixed Cost Biaya Tetap VC Variabel Cost Biaya Tidak Tetap i. ROI Return on Investment ROISebelum Pajak = x100% Produksi Biaya T otal otor K Laba ROISesudah Pajak = x100% Produksi iaya B T otal Bersih Laba j. POT POT merupakan waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk mendapatkan pengembalian modal dan mendapatkan keuntungan bersih. otor K Laba roduksi P Biaya POT k. B/C Ratio Benefit Cost Ratio roduksi P Biaya Pendapatan B/CRatio l. IRR = 2 1 2 1 1 DF DF x NPV NPV NPV DF commit to user 18 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Produk Bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatan selai yaitu buah sawo yang matang, masih segar dan tidak kotor. Buah sawo dipilih dikarenakan buah tersebut mengandung vitamin C yang cukup tinggi yang berguna untuk memelihara dan menambah daya tahan tubuh. Fungsi lain dari vitamin C adalah untuk mengurangi kadar lemak dalam tubuh karena vitamin C berperan penting dalam proses pembakaran lemak dalam tubuh. Selai sawo dibuat dengan komposisi buah sawo, gula, jeruk nipis, vanili, pektin dan air, dihasilkan warna coklat. Selai sawo dikemas dalam botol dengan berat bersih 200 gram per botol. Pengemasan selai sawo di kemas dengan botol bermulut lebar, tujuan dari pengemasan botol supaya memudahkan dalam sterilisasi alat maupun botol selai yang sudah diisi dengan cara dikukus atau dipanaskan supaya produk selai bisa lebih awet dan melindungi produk dari kontaminasi. Proses pembuatan selai sawo meliputi 6 tahapan proses yaitu pengupasan kulit sawo, pencucian, penghancuran, pemasakan, pendinginan, dan pengemasan. Untuk penjelasan dari masing-masing tahapan proses pembuatan selai sawo adalah sebagai berikut 1. Pengupasan Sawo Tahap pertama dalam pembuatan selai sawo adalah pengupasan. Pengupasan bertujuan untuk membuang kulit buah serta bijinya. Proses pengupasan harus dilakukan dengan benar supaya daging buah tidak ikut terbuang, buah yang digunakan untuk pembuatan selai harus buah yang benar-benar masak agar hasil selai lebih bagus. Untuk lebih jelasnya pengupasan dapat dilihat pada Gambar commit to user 19 Gambar Pengupasan Sawo 2. Pencucian Setelah dilakukan pengupasan buah sawo, dilakukan proses pencucian dengan air bersih terhadap daging buah. Pencucian daging buah bertujuan untuk menghilangkan kotoran dan getah yang masih menempel pada buah sawo. Untuk lebih jelasnya pencucian dapat dilihat pada Gambar commit to user 20 3. Penghancuran Daging buah yang sudah dicuci kemudian dihancurkan dengan menggunakan blender selama 4 menit dan ditambahkan air sebanyak 30 ml agar mempermudah dalam proses penghancuran. Pada waktu proses penghancuran daging buah harus benar-benar hancur supaya didapatkan bubur buah yang halus. Untuk lebih jelasnya pencucian dapat dilihat pada Gambar Gambar Penghancuran 4. Pemasakan Pemasakan dilakukan dengan mencampur semua bahan utama dan bahan bahan tambahan. Bahan utama dalam pembuatan selai ini adalah daging buah sawo yang telah dihancurkan, sedangkan bahan tambahan yang digunakan adalah gula, jeruk nipis, vanili, dan pektin. Pemasakan dilakukan selama 30 menit dengan suhu 1000 C sampai mengental. Pemanasan dan pemasakan sangat berpengaruh terhadap mutu selai. Untuk lebih jelasnya pemasakan dapat dilihat pada Gambar commit to user 21 Gambar Proses Pemasakan Selai Sawo 5. Pendinginan Setelah dilakukan pemasakan, selai didinginkan. Pendinginan dilakukan kurang lebih 3 jam hingga suhunya menjadi kurang lebih 400C. Setelah didinginkan, tekstur selai menjadi menggumpal. Jika pendinginan kurang dari 3 jam, selai masih panas dan jika dikemas akan menimbulkan uap. Sedangkan jika pendinginan lebih dari 3 jam selai akan keras. Untuk lebih jelasnya pendinginan dapat dilihat pada Gambar commit to user 22 6. Pengemasan Pengemasan dilakukan untuk melindungi produk dari kotoran dan kontaminan. Selai yang telah dingin dikemas dengan menggunakan botol selai yang terbuat dari bahan kaca karena botol jenis kaca ini lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, dan stabil terhadap suhu tinggi. Botol selai yang digunakan harus benar-benar bersih. B. Analisis Sensori Analisis sensori dilakukan dengan menggunakan uji skoring untuk mengetahui tingkat kesukaan konsumen terhadap mutu selai sawo yang dibuat dengan perbedaan konsentrasi gula yang berbeda. Parameter yang diuji antara lain adalah warna, rasa, tekstur, aroma, dan penilaian secara keseluruhan overall. Hasil analisis sensori selai sawo dapat dilihat pada Tabel Tabel Hasil Analisis Sensori Selai Sawo Selai Sawo Warna Rasa Tekstur Aroma Overall Penambahan gula 150 gr 2,96a 3,32a 3,32a 2,72a 3,56b Penambahan gula 175 gr 3,04a 2,76a 3,12a 2,80a 2,96a Penambahan gula 200 gr 3,44a 3,16a 3,16a 3,28a 2,96a Keterangan 1 = Tidak Suka 2 = Kurang Suka 3 = Agak Suka 4 = Suka 5 = Sangat Suka